Ditjen Bimas Buddha Gelar Rapat Tindak Lanjut Pemasangan Chattra Candi Borobudur

Ditjen Bimas Buddha Gelar Rapat Tindak Lanjut Pemasangan Chattra Candi Borobudur

Administrator | 01 01 2026

Jakarta - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha menggelar Rapat Tindak Lanjut Tahap Awal Adaptasi Pemasangan Chattra pada Stupa Induk Candi Borobudur dengan mengundang pimpinan Organisasi Keagamaan Buddha Tingkat Pusat dan Organisasi Masyarakat Buddha pada Kamis (15/1/2026) di Auditorium H.M. Rasjidi Kementerian Agama RI, Jakarta. Dalam rapat ini, Budi Utomo, Ph.D., Wakil Ketua III STIAB Smaratungga, turut hadir dan mengikuti pembahasan penting mengenai rencana pemasangan chattra.

Rapat ini dilaksanakan sebagai bagian dari tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha dalam melaksanakan pembinaan, bimbingan, serta pemajuan kehidupan keagamaan Buddha, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 33 Tahun 2024.

Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi telah menyelenggarakan rapat koordinasi lintas kementerian dan para ahli termasuk Ditjen Bimas Buddha, terkait rencana pemasangan Chattra Candi Borobudur. Hasil rapat tersebut menjadi masukan awal yang bersifat konseptual dan teknis, yang selanjutnya perlu ditindaklanjuti melalui dialog internal umat Buddha.

Ditjen Bimas Buddha memandang perlu mengundang pimpinan Organisasi Keagamaan Buddha Tingkat Pusat dan Organisasi Masyarakat Buddha untuk membahas langkah awal dari tujuh tahapan adaptasi pemasangan Chattra, khususnya dari perspektif spiritual, simbolik, dan filosofis umat Buddha.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, menegaskan bahwa pembahasan mengenai pemasangan Chattra dilakukan secara bertahap, hati-hati, dan tidak bersifat instan. Pembahasan mengenai Chattra ini telah melalui proses yang panjang, melibatkan kajian, diskusi akademik, serta dialog dengan berbagai pihak. Oleh karena itu, tahap awal ini difokuskan pada penyamaan persepsi dan kesepahaman umat Buddha.

Dirjen menambahkan bahwa pendekatan adaptasi dipilih sebagai bentuk kehati-hatian serta komitmen untuk menghormati nilai spiritual umat Buddha tanpa mengabaikan prinsip pelestarian cagar budaya. Karena Chattra berkaitan langsung dengan spiritualitas umat Buddha, maka kesepahaman ini harus lahir dari umat Buddha itu sendiri.

Dalam rapat tersebut, para narasumber menyampaikan pandangan dan kajian akademik sebagai bahan diskusi.

Hudaya Kandahjaya memaparkan bahwa adaptasi Chatravali Borobudur tidak hanya berkaitan dengan aspek estetika atau sejarah, melainkan juga pemaknaan Borobudur sebagai stupa Tathagata dan monumen hidup yang memiliki makna spiritual.

Hendrick Tanuwidjaja menyampaikan bahwa persembahan Chattra dapat dipahami sebagai wujud kebajikan umat Buddha yang diarahkan pada penguatan nilai spiritual dan kontribusi positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara itu, Handaka Vijjananda menegaskan bahwa rencana adaptasi pemasangan Chattra tetap akan mengindahkan kaidah pelestarian cagar budaya, ketentuan UNESCO, serta regulasi Kementerian Kebudayaan, termasuk melalui pelaksanaan Kajian Dampak Cagar Budaya (KDCB) atau Heritage Impact Assessment (HIA).

Kehadiran Budi Utomo, Ph.D., Wakil Ketua III STIAB Smaratungga, dalam rapat ini menunjukkan keterlibatan aktif institusi pendidikan tinggi Buddha dalam proses pengambilan keputusan penting terkait warisan budaya dan spiritualitas umat Buddha. Sebagai akademisi dan pimpinan institusi pendidikan, partisipasinya memberikan perspektif akademik dan pendidikan dalam pembahasan yang melibatkan aspek sejarah, budaya, dan spiritualitas.

STIAB Smaratungga sebagai lembaga pendidikan tinggi Buddha memiliki kepentingan dalam memastikan bahwa keputusan-keputusan terkait warisan budaya Buddha diambil dengan pertimbangan yang matang, berbasis pengetahuan akademik, dan menghormati nilai-nilai spiritual umat Buddha.

Masukan dan pandangan dari pimpinan Organisasi Keagamaan Buddha Tingkat Pusat serta Organisasi Masyarakat Buddha dalam rapat ini menjadi landasan awal bagi penyusunan dokumen adaptasi tahap pertama, yang selanjutnya akan menjadi rujukan pada tahapan berikutnya dari tujuh tahapan adaptasi pemasangan Chattra.

Hasil rapat dituangkan dalam berita acara yang ditandatangani oleh pimpinan Organisasi Keagamaan Buddha Tingkat Pusat dan Organisasi Masyarakat Buddha sebagai bentuk kesepahaman awal umat Buddha dalam proses adaptasi pemasangan Chattra Candi Borobudur.

Rencana pemasangan chattra pada stupa induk Candi Borobudur memiliki makna spiritual yang sangat penting bagi umat Buddha. Ketiadaan chattra pada stupa induk sering dianggap sebagai ketidaklengkapan simbolik dari fungsi stupa sebagai representasi Buddha dan ajaran-Nya.

Proses yang melibatkan berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan tinggi Buddha seperti STIAB Smaratungga, menunjukkan keseriusan pemerintah dan umat Buddha dalam menangani isu ini dengan pendekatan yang komprehensif, menghormati nilai spiritual, dan tetap memperhatikan aspek pelestarian cagar budaya.

STIAB Smaratungga mengapresiasi proses yang transparan dan melibatkan berbagai stakeholder dalam pengambilan keputusan penting ini. Partisipasi Wakil Ketua III dalam rapat menunjukkan komitmen institusi untuk terus berkontribusi dalam diskursus penting yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan Buddha di Indonesia.


Tim Redaksi STIAB Smaratungga